Bagi Kamu Para Pria, Ini Hak Seorang Ibu Terhadap Anaknya! Jangan Terlambat Mengetahui dan Menyesal!

Membangun keluarga sakinah merupakan dambaan kita semua. Dasarnya adalah masing-masing anggota keluarga tersebut harus bertaqwa. Salah satu manifestasi taqwa ialah berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain). Perlu disadari, bahwa pernikahan itu bukan hanya ikatan 2 orang anak manusia, tetapi mengikat 2 keluarga besar.

Jadi pernikahan itu merupakan risalah agung membentuk ukhuwah yang luas yang dasarnya saling kenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menolong (tafakul) antara suami-istri, keluarga suami dan keluarga istri. Bila masing-masing pihak ridha, maka nilai pernikahan yang sakinah serta diridhai orang tua akan terwujud.


Sebelum menikah, seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kewajiban yang besar kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya. Bila seorang anak laki-laki yang telah menikah, maka kewajiban berbakti kepada ibu ini tidak hilang, jadi suami adalah hak ibunda.

Bagaimana dengan anak perempuan yang telah menikah? Nah, bagi anak perempuan yang telah menikah, maka haknya suami. Jadi istri berkewajiban berbakti pada suami. Karena setelah Ijab kabul, berpindahlah hak dan kewajiban seorang ayah kepada suami dari anak wanitanya. Begitu besar kewajiban berbakti pada suami, sampai rasul pernah bersabda,

“Bila boleh sesama manusia mengabdi (menyembah), maka aku akan menyuruh seorang istri mengabdi pada suaminya.”

Melansir islampos, dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Ada seseorang yang datang, disebutkan namanya Muawiyah bin Haydah r.a., bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah saw: “Ibumu.” Dengan diulang tiga kali pertanyaan dan jawaban ini.

Pengulangan kata “ibu” sampai tiga kali menunjukkan bahwa ibu lebih berhak atas anaknya dengan bagian yang lebih lengkap, seperti al-bir (kebajikan), ihsan (pelayanan). Ibnu Al-Baththal mengatakan:

“Bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya. Karena
 
kata ‘ayah’ dalam hadits disebutkan sekali sedangkan kata ‘ibu’ diulang sampai tiga kali. Hal ini bisa dipahami dari kerepotan ketika hamil, melahirkan, menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan.

Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah swt., “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun –selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun–, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Allah SWT menyamakan keduanya dalam berwasiat, namun mengkhususkan ibu dengan tiga hal yang telah disebutkan di atas.

Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad, demikian juga Ibnu Majah, Al Hakim, dan menshahihkannya dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesunguhnya Allah swt. telah berwasiat kepada kalian tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ayah kalian, kemudian berwasiat tentang kerabat dari yang terdekat.”

Hal ini memberikan kesan untuk memprioritaskan kerabat yang didekatkan dari sisi kedua orang tua daripada yang didekatkan dengan satu sisi saja. Memprioritaskan kerabat yang ada hubungan mahram daripada yang tidak ada hubungan mahram, kemudian hubungan pernikahan. Ibnu Baththal menunjukkan bahwa urutan itu tidak memungkinkan memberikan kebaikan sekaligus kepada keseluruhan kerabat.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran tentang ibu yang lebih diprioritaskan dalam berbuat kebaikan dari pada ayah. Hal ini dikuatkan oleh hadits Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Aisyah r.a. berkata:

“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.”

Demikian juga yang diriwayatkan Al-Hakim dan Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita yang bertanya:

“Ya Rasulallah, sesungguhnya anak laki-lakiku ini, perutku pernah menjadi tempatnya, air susuku pernah menjadi minumannya, pangkuanku pernah menjadi pelipurnya. Dan sesungguhnya ayahnya menceraikanku, dan hendak mencabutnya dariku.” Rasulullah saw. bersabda, “Kamu lebih berhak daripada ayahnya, selama kamu belum menikah.”

Maksudnya menikah dengan lelaki lain, bukan ayahnya, maka wanita itu yang meneruskan pengasuhannya, karena ialah yang lebih spesifik dengan anaknya, lebih berhak baginya karena kekhususannya ketika hamil, melahirkan dan menyusui.

[wajibbaca]

Subhanallah, Inilah Khasiat Dan Keutamaan Yang Anda Peroleh, Berwudhu Sebelum Tidur!!!!

Rasulullah SAW bersabda : " Barangsiapa tidur pada malam hari dalam kondisi suc! (berwudhu') jadi Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap 'Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur pada malam hari dalam kondisi selalu suc!, " (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r. a.). 
Berwudhu, meski sederhana, tetapi mempunyai manfaat yang begitu besar. Bahkan juga ulama fikih menerangkan hikmah wudhu sebagai sisi dari usaha untuk pelihara kebersihan fis!k serta rohani. 
Serta pasti setiap perintah Allah SWT itu mempunyai hikmah kebaikan dibaliknya. Dalam sekali kesibukan berwudhu, lima panca indera terserang semuanya tanpa ada terkecuali disapu oleh air wudhu. Mata, hidung, telinga & semua kulit badan. Ini benar-benar luar biasa!. 
 
Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, mengutip sumber dari Al-I'jaz Al-Ilmiy fi Al-Islam wa Al-Sunnah AlNabawiyah, menerangkan kalau kegunaan segalanya yang diperintahkan dalam wudhu sangat besar untuk badan manusia. Dari mulai membersihkan tangan serta menyela-nyela jari, berkumur-kumur, memasukkan air kedalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh ke-2 tangan hingga siku, menyeka kepala, membasuh telinga, sampai membasuh kaki sampai mata kaki. 
 
Lantas, bagaimana bila berwudhu dikerjakan sebelumnya tidur? Nah, beberapa ahli kesehatan didunia selalu menyarankan supaya kita mencuci kaki mulut serta muka sebelumnya tidur. Bahkan juga, beberapa ahli
 
kecantikan menghasilkan alat kecantikan supaya bisa melindungi kesehatan kulit muka. 
Selain itu pastinya saran untuk berwudhu juga meng4ndung nilai beribadah yang tinggi. Sebab saat seorang dalam kondisi suci. Bila seorang ada dalam kondisi suc!, bermakna ia dekat dengan Allah. Lantaran Allah akan dekat serta cinta pada beberapa orang yang ada dalam kondisi suc!. 
 
Manfaat Wudhu Sebelumnya Tidur 
Pertama, merilekskan 0t0t-0t0t sebelumnya beristirahat. 
Mungkin tidaklah terlalu banyak penjelasan. Dapat dibuktikan dalam pengetahuan kedokteran kalau percikan air yang karena umat muslim lakukan wudhu itu adalah satu cara atau langkah meng3nd0rkan 0t0t-0t0t yang kaku karna lelahnya dalam bekerja. Begitu di ambil efek positifnya kalau bila seorang itu sudah lakukan wudhu, jadi fikiran kita akan merasa santai. Badan tidak akan terasa lelah. 

Ke-2, membuat cerah kulit muka. 
Wudhu bisa membuat cerah kulit muka lantaran kinerja wudhu ini menyingkirkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang melekat pada kulit muka kita bakal selalu hilang serta pastinya muka kita menjadi cerah serta bersih. 
Ketiga, didoakan malaikat. 

Dalam sabda Beliau yang disinggung di bagian atas, malaikat bakal selalu memberi do'a perlindungan pada umat muslim yang selalu wudhu sebelumnya tidur. Walau sebenarnya malaikat yaitu makhluk yang selalu berdzikir pada Allah. pasti do'anya bakal selalu dikabulkan juga oleh Allah. Oleh karenanya, selalu berwudhu itu yaitu hal yang harus kita kerjakan. islampos

MAsya Allah !!! Inilah 6 Janji Allah Untuk Orang Yang Rajin Sedekah, No 4 Paling Istimewa

Sedekah adalah perbuatan untuk
memberbagi materi alias jasa dengan tujuan meringankan beban alias memtersanjungkan nasib orang lain. Tak hanya barang serta uang, bahkan senyum pun telah dikualitas sebagai suatu  sedekah








Tindakan ini adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebab tidak hanya bisa menolong sesama, Allah SWT juga bakal membalasnya dengan pahala bagi mereka yang tulus ikhlas  meperbuatnya.

Nyatanya, sedekah ini mempunyai beberapa macam keutamaan serta kegunaaan. Faktor ini sesuai dengan janji Allah yang tersedia dalam Al-Qur’an serta hadist. Lalu  apa sajakah janji Allah terhadap orang-orang yang bersedekah? Berikut ini ulasan selengkapnya.

1. Sedekah bisa Menghilangkan Dosa

Janji Allah yang pertama bagi orang yang rajin bersedekah adalah bahwa sedekah itu bisa menghilangkan dosa orang yang mengerjakannya. Faktor ini tertera dalam suatu  hadist, Rasulullah SAW bersabda:

"Sedekah bisa menghilangkan dosa sebagaimana air memadamkan api." [HR. Tirmidzi]

Akan tetapi, janji tersebut bakal dipenuhi apabila sedekah itu disertai dengan taubat atas dosa yang telah diperbuat. Terlebih lagi apabila orang yang dengan sengaja meperbuat maksiat semacam korupsi, memakan riba, mencuri. Mengambil hak anak yatim serta lainnya, tak berlaku sedekahnya apabila ia bersedekah hanya berfungsi supaya dosa-dosanya tersebut impas.
.
2. Memperoleh Naungan di Hari Akhir

Tidak hanya bisa menghilangkan dosa, nyatanya amalan sedekah juga dijanapabilan bakal mendapat naungan di hari akhir nanti. Rasulullah SAW menceritakan tentang 7 tipe manusia yang mendapat naungan di hari akhir yang ketika itu tak ada lagi naungan tidak hanya naungan dari Allah. Salah satu jenisnya adalah mereka yang rajin 
bersedekah.

"Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu hingga-sampai tangan kirinya tak mengenal apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." [HR. Bukhari]

3. Allah Melipatgandakan Pahala Orang yang Bersedekah
Janji Allah selanjutnya terhadap mukmin yang rajin bersedakah adalah Allah bakal melipatgandakan pahala bagi mereka. Faktor tersebut sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:

"Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah serta Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan serta meminjamkan terhadap Allah pinjaman yang baik, niscaya bakal dilipatgandakan (ganjarannya) terhadap mereka; serta bagi mereka pahala yang tak sedikit." [QS. Al-Hadid ayat 18]

4. Tersedia Pintu Surga yang Hanya bisa Dimasuki Orang yang Bersedekah
Dalam suatu  hadits, Rasulullah bersabda : "Orang memberbagi menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia bakal dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: "Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan" Apabila ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia bakal dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka bakal dipanggil dari pintu jihad, apabila ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah bakal dipanggil dari pintu sedekah." [HR. Bukhari serta Muslim]

5. Bisa Membebaskannya dari Siksa Kubur
Selain memperoleh surga yang khusus, orang yang rajin bersedekah juga dijanapabilan bakal dibebaskan dari siksa kubur. Rasulullah SAW bersabda,

"Sedekah bakal memadamkan api siksaan di dalam kubur." [HR. Ath-Thabrani]

6. Menjauhkan Diri dari Api Neraka
Janji Allah terbaru terhadap mereka yang rajin bersedekah adalah bakal menjauhkan diri dari api neraka. Nyatanya meskipun hanya sedekah dengan jumlah yang sedikit, tetapi sedekah tersebut mempunyai andil untuk menjauhkan diri dari api neraka. Terus tak sedikit sedekah yang diperbuat, maka bakal terus jauhlah darinya. Rasulullah SAW bersabda:

"Jauhilah api neraka, meski hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Apabila kalian tak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah" [HR. Bukhari serta Muslim]

Demikianlah ulasan tentang enam janji Allah SWT terhadap mukmin yang rajin bersedekah. Sungguh tak sedikit keutamaan yang bakal diperoleh mukmin yang gemar bersedakah ini. Untuk itu, keluarkan sedikit harta untuk bersedekah, supaya Allah memberbagi kami janji-janji mulia tersebut.

Sering Bacalah Ayat Ini Saat Sulit, Maka Allah Akan Kirim Seribu Malaikat Untuk Membantu Kesulitan Kita



Tersebutlah seorang laki-laki yang menempuh perjalanan dari Damaskus menuju Zabadani. Di tengah jalan, ada laki-laki lain yang berniat menyewa keledainya. Meski tak dikenal, ia mengizinkan laki-laki asing untuk menyewa keledainya. Keduanya berjalan menuju satu lokasi, beriringan.

“Ayo lewat arah sini,” ajak laki-laki penyewa keledai. 
“Tidak, aku belum pernah lewat jalan itu. Mari tempuh jalan yang lain.” jawab si laki-laki. Mengelak. 

“Tenang saja,” rayu laki-laki penyewa keledai, “aku yang akan menjadi penujuk jalan.” 
Keduanya pun berunding hingga laki-laki pertama mengikuti saran laki-laki yang menyewa keledainya.

Tak lama setelah itu, keduanya sampai di sebuah tempat yang sukar dilalui. Medannya terjal dan curam. Laki-laki pemilik keledai melihat ada beberapa mayat tergeletak di sana. 
Tak dinyana, laki-laki yang menyewa keledainya turun sembari menodongkan sebilah pedang. “Turunlah segera! Aku akan membunuhmu!” 
Laki-laki pemilik keledai pun berlari sekuat kemampuannya. Ia berusaha menghindar, tapi sia-sia karena sukarnya medan yang harus dilalui. 
“Ambil saja keledai kepunyaanku.
Bebaskan aku.” ujar laki-laki pemilik keledai. Nyawanya terancam.
“Pasti. Aku tidak akan menyia-nyiakan keledaimu. Tapi, aku juga ingin membunuhmu.” Gertak si laki-laki. Bengis. 

Tak henti-hentinya, laki-laki pemilik keledai ini menyampaikan nasihat. Ia juga membacakan ancaman-ancaman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an dan hadits Nabi tentang dosa membunuh dan melakukan kejahatan secara umum. 
Sayangnya, laki-laki itu tak menggubris. Nafsu membunuhnya sudah bulat. Tak bisa dicegah. Mustahil diurungkan. 
“Jika demikian,” ujar laki-laki pemilik keledai, “izinkanlah saya mendirikan shalat. dua rakaat saja.” 

  


“Baiklah,” bentak laki-laki jahat, “tapi jangan lama-lama!” 



Qadarullah, semua hafalan laki-laki pemilik keledai hilang. Saat sibuk mengingat-ingat, laki-laki tak bernurani itu membentak dan menyuruhnya bergegas. 

Akhirnya, teringatlah satu ayat oleh laki-laki pemilik keledai ini. Ia membaca firman Allah Ta’ala dalam surat an-Naml [27] ayat 62, 

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” 

“Seketika itu juga,” tutur si laki-laki, “dari mulut lembah muncul seorang pengendara kuda membawa tombak. Dia melemparkan tombak tepat di dada laki-laki jahat itu hingga langsung tersungkur tanpa bernyawa.” 

“Siapakah engkau?” tanya laki-laki pemilik keledai penuh heran sekaligus haru terima kasih. 
“Akulah hamba-Nya Dia yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” 

Kisah menakjubkan ini juga dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. 
Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaaat, bagikan info ini agar semua orang tidak patah semangat dalam menghadapi ujian sesulit apapun.....

Sumber : kisahikmah.com

SUBHANALLAH PRAMUGARI MENYEMPATKAN WAKTU SHALAT DI PESAWAT, SEMOGA BISA MENJADI CONTOH BAGI KITA SEMUA SEBARKAN YUK!!!!

Foto yang diunggah oleh salah satu penumpang berkewarganegaraan Malaysia, Eddie Putra yaitu seorang pramugari yang menunaikan shalat di pesawat itu menjadi inspirasi bagi pekerja yang lain.

Eddie yang
ketika itu menjadi penumpang kebetulan sedang membawa kamera. Dirinya yang duduk di kursi bagian belakang terkejut melihat seorang pramugari yang berada di belakangnya mengambil tas yang ada di kabin penyimpanan bagian atas. Dirinya mengira sang pramugari akan ganti baju, namun Eddie terkejut saat mendapati sang pramugari sedang menunaikan shalat di kursi pesawat.

Melihat kejadian itu, Eddie segera mengabadikan moment penting itu dengan kameranya. Tampak sekali sang pramugari mengenakan mukena coklat dan melaksanakan ibadah yang biasa dijalankan umat Islam itu di atas pesawat.

Ketika dikonfirmasi ke pihak maskapai Garuda Indonesia, hal itu adalah biasa dilakukan dan tidak mengganggu layanan para penumpang pesawat, karena dilakukan setelah mereka selesai melayani para penumpang.

SAYANGILAH ORANG TUAMU,!! DO'A ORANG KEPADA ANAKNYA. DO'A YANG MUSTAJAB. BACA SELNGKABNYA....YANG SAYNG ORANG TUANYA WAJIB DI SHARE..

pelajaran yang harus di ketahui tiap-tiap orangtua. Doa mereka sungguh ajaib bila itu ditujukan pada anak-anak mereka. Bila ortu menginginkan anaknya jadi sholeh serta baik, jadi doakanlah mereka lantaran doa ortu yaitu doa yang gampang diijabahi. Tetapi ingat sesungguhnya doa yang ditujukan disini meliputi doa baik serta jelek dari orangtua pada anaknya. Bila ortu mendoakan buruk pada anaknya, jadi itu juga akan terkabulkan. Hingga ortu harus hati-hati dalam mendoakan anak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُس'تَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَع'وَةُ ال'وَالِدِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'مَظ'لُومِ

“Tiga doa yang mustajab yg tidak diragukan lagi yakni doa orangtua, doa orang yang melancong (safar) serta doa orang yang dizholimi. ” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَع'وَةُ ال'وَالِدِ ، وَدَع'وَةُ الصَّائِمِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ

“Tidak doa yg tidak tertolak yakni doa orangtua, doa orang yang berpuasa serta doa seseorang musafir. ” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani menyampaikan hadits ini shahih seperti dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini dijelaskan umum, berarti mencakup doa orangtua yang diisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُس'تَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَع'وَةُ ال'مَظ'لُومِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'وَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab yg tidak diragukan lagi yakni doa orang yang dizholimi, doa orang yang melancong (safar) serta doa baik orangtua pada anaknya. ” (HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan kalau hadits ini hasan). Kisah ini mengatakan kalau doa baik orangtua pada anaknya termasuk juga doa yang mustajab.

Muhammad bin Isma’il Al Bukhari membawakan dalam kitab Al Adabul Mufrod sebagian kisah mengenai doa orangtua. Diantara kisah tersbeut, Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُس'تَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِي'هِنَّ دَع'وَةُ ال'مَظ'لُو'مِ وَدَع'وَةُ ال'مُسَافِرِ وَدَع'وَةُ ال'وَالِدَي'نِ عَلىَ وَلَدِهِمَا


“Ada tiga type doa yang mustajab (terkabul), tak diragukan lagi, yakni doa orang yang dizalimi, doa orang yang melancong serta doa kejelekan ke-2 orangtua pada anaknya. ” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Disebutkan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24). Hadits ini tunjukkan bahwa doa buruk orangtua pada anaknya termasuk juga doa yang mustajab. Hal semacam itu dibuktikan dalam cerita Juraij di bawah ini. Cerita ini menunjukkan kalau doa buruk ibunya pada Juraij terkabul. Cerita ini dibawakan juga oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod.

Abu Hurairah berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَكَلَّمَ مَو'لُو'دٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَه'دٍ إِلاَّ عِي'سَى ب'نُ مَر'يَمَ صَلَّى اللهُ عَلَي'هِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبُ جُرِي'جٍ” قِي'لَ : يَا نَبِيَّ اللهِ! وَمَا صَاحِبُ جُرَي'جٍ؟ قَالَ : “فَإِنَّ جُرَي'جًا كَانَ رَجُلاً رَاهِباً فِي صَو'مَعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِيُ بَقَرٍ يَأ'وِي إِلَى أَس'فَلِ صَو'مَعَتِهِ، وَكَانَت' اِم'رَأَةٌ مِن' أَه'لِ ال'قَر'يَةِ تَخ'تَلِفُ إِلَى الرَّاعِي، فَأَتَت' أُمُّهُ يَو'مًٍا فَقَالَت' : يَا جُرَي'جُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَف'سِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَت' بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَف'سِهِ : أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَت' بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ : أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَن' يُؤ'ثِرَ صَلاَتَهُ. فَلَمَّا لَم' يُجِب'هَا قَالَت' : لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَي'جُ! حَتىَّ تَن'ظُرَ فِي وَج'هِ المُو'مِسَاتِ. ثُمَّ ان'صَرَفَت' فَأُتِيَ ال'مَلِكُ بِتِل'كَ ال'مَر'أَةِ وَلَدَت'. فَقَالَ : مِمَّن'؟ قَالَت' : مِن' جُرَي'جٍ. قَالَ : أَصَاحِبُ الصَّو'مَعَةِ؟ قَالَت' : نَعَم'. قَالَ : اِه'دَمُوا صَو
200%;">'مَعَتَهُ وَأ'تُو'نِي بِهِ، فَضَرَبُو'ا صَو'مَعَتَهُ بِال'فُئُو'سِ، حَتىَّ وَقَعَت'. فَجَعَلُو'ا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَب'لٍ؛ ثُمَّ ان'طَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى ال'مُو'مِسَاتِ، فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَن'ظُر'نَ إِلَي'هِ فِي النَّاسِ. فَقَالَ ال'مَلِكُ : مَا تَز'عُمُ هَذِهِ؟ قَالَ : مَا تَز'عُمُ؟ قَالَ : تَز'عُمُ أَنَّ وَلَدَهَا مِن'كَ. قَالَ : أَن'تِ تَز'عَمِي'نَ؟ قَالَت' : نَعَم'. قَالَ : أَي'نَ هَذَا الصَّغِي'رُ؟ قَالُو'ا : هَذَا فِي حُج'رِهَا، فَأَق'بَلَ عَلَي'هِ. فَقَالَ : مَن' أَبُو'كَ؟ قَالَ : رَاعِي ال'بَقَرِ. قَالَ ال'مَلِكُ : أَنَج'عَلُ صَو'مَعَتَكَ مِن' ذَهَبٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالَ : مِن' فِضَّةٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالَ : فَمَا نَج'عَلُهَا؟ قَالَ : رَدُّو'هَا كَمَا كَانَت'. قَالَ : فَمَا الَّذِي تَبَسَّم'تَ؟ قَالَ : أَم'راً عَرَف'تُهُ، أَد'رَكَت'نِى دَع'وَةُ أُمِّي، ثُمَّ أَخ'بَرَهُم'

“Tidak ada bayi yang bisa bicara dalam buaian terkecuali Isa bin Maryam serta Juraij” Lantas ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij? ”. Beliau lantas bersabda, ”Juraij yaitu seseorang rahibyang berdiam diri pada tempat tinggal peribadatannya (yang terdapat di dataran tinggi/gunung). Ada seseorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya serta seorang wanita dari satu desa menjumpai penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Satu saat) datanglah ibu Juraij serta memanggilnya saat ia tengah melakukan shalat, ”Wahai Juraij. ” Juraij lantas ajukan pertanyaan dalam hatinya, ”Apakah saya mesti penuhi panggilan ibuku atau melanjutkan shalatku? ” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lantas memanggil untuk yang ke-2 kalinya. Juraij kembali ajukan pertanyaan didalam hati, ”Ibuku atau shalatku? ” Rupanya dia memprioritaskan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij ajukan pertanyaan lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku? ” Rupanya dia tetaplah memprioritaskan shalatnya. Saat telah tak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tak mewafatkanmu, wahai Juraij hingga wajahmu dipertontonkan di depan beberapa pelacur? ” Lantas ibunya juga pergi meninggalkannya.

Wanita yang menjumpai penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam kondisi sudah melahirkan seseorang anak. Raja itu ajukan pertanyaan pada wanita itu, ”Hasil dari (jalinan dengan) siapa (anak ini)? ” “Dari Juraij? ”, jawab wanita itu. Raja lantas ajukan pertanyaan lagi, “Apakah dia yang tinggal ditempat peribadatan itu? ” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan tempat tinggal peribadatannya serta bawa dia kemari. ” Orang-orang lantas menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak hingga rata serta mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lantas membawanya menghadap raja. Di dalam perjalanan Juraij ditinggalkan dihadapan beberapa pelacur. Saat memandangnya Juraij tersenyum serta beberapa pelacur itu lihat Juraij yang ada diantara manusia.

Raja lantas ajukan pertanyaan kepadanya, “Siapa ini menurutmu? ”. Juraij balik ajukan pertanyaan, “Siapa yang engkau maksud? ” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata kalau anaknya yaitu hasil jalinan denganmu. ” Juraij ajukan pertanyaan, “Apakah engkau sudah berkata demikian? ” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lantas ajukan pertanyaan, ”Di mana bayi itu? ” Orang-orang lantas menjawab, “ (Itu) di pangkuan (ibu) nya. ” Juraij lantas menemuinya serta ajukan pertanyaan pada bayi itu, ”Siapa ayahmu? ” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi. ”

Kontan sang raja berkata, “Apakah butuh kami bangun kembali tempat tinggal ibadahmu dengan bahan dari emas. ” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak? ” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami bakal bangun tempat tinggal ibadahmu? ”, bertanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti awal mulanya. ” Raja lantas ajukan pertanyaan, “Mengapa engkau tersenyum? ” Juraij menjawab, “ (Saya tertawa) lantaran satu perkara yang sudah saya kenali, yakni terkabulnya do’a ibuku pada diriku. ” Lalu Juraij juga menginformasikan hal semacam itu pada mereka. ” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 33. Disebutkan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 25). Saksikan Bukhari : 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim : 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8

Jadi sungguh sangat bahaya bila keluar dari lisan orangtua doa buruk pada anaknya sendiri karena doa seperti itu dapat terkabul seperti bisa kita saksikan dalam cerita Juraij diatas. Yang paling baik, sebaiknya orangtua mendoakan anaknya dalam kebaikan serta moga anaknya jadi sholeh dan ada di jalan yang lurus. Saat geram lantaran kenakalan anaknya, sebaiknya amarah itu ditahan. Ingatlah sekali lagi kalau di waktu geram lantas keluar doa buruk dari lisan ortu, jadi mungkin saja doa buruk itu terwujud.

Sebaiknya orangtua mencontoh para nabi serta orang sholeh yang senantiasa mendoakan kebaikan pada anak keturunannya. Lihatlah contoh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dimana beliau berdoa,

رَبِّ اج'عَل'نِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّل' دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah saya serta anak cucuku beberapa orang yang tetaplah membangun shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. ” (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ اج'عَل' هَذَا ال'بَلَدَ آمِنًا وَاج'نُب'نِي وَبَنِيَّ أَن نَّع'بُدَ الأَص'نَامَ


“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, serta jauhkanlah saya beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala. ” (QS. Ibrahim : 35)

Lihatlah karakter ‘ibadurrahman (hamba Allah) yang berdoa,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَب' لَنَا مِن' أَز'وَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَع'يُنٍ وَاج'عَل'نَا لِل'مُتَّقِينَ إِمَامًا


“Dan beberapa orang yang berkata : “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah pada kami, isteri-isteri kami serta keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), serta jadikanlah kami imam untuk orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqan : 74)

Moga Allah memperkenankan doa kita sebagai orangtua yang diisi kebaikan pada anak-anak kita. Moga anak-anak kita ada dalam kebaikan serta selalu ada dalam tuntunan Allah di jalan yang lurus. Bila kita sebagai anak, jangan sampai hingga durhaka pada orangtua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, hingga kita juga bakal didoakan oleh ayah serta ibu kita.

Mudah-mudahan sajian singkat pada malam ini berguna untuk pembaca setia rumaysho. com sekalian.